Rabu, 27 Februari 2013

Apa Artinya... Teman?

Aku pikir mereka juga melihatku. Aku pikir mereka juga merasakannya. Aku pikir aku dan mereka adalah satu dunia. Nyatanya mereka punya dunia mereka sendiri dan aku dengan duniaku sendiri. Ataukah hanya aku saja yang terlalu banyak berharap pada mereka? Aku pikir mereka akan terus bersamaku. Tapi nyatanya mereka pergi dan hanya aku saja yang di sini. Sendiri. Usahaku mungkin sia-sia sekarang. Aku selalu menganggap mereka ada. Aku selalu menghargai kebaikan mereka. Apa aku yang salah pada mereka? Tapi apa salahku? Aku kira itu hanya sebagian masa lalu saja. Toh masa lalu itu ya hanya masa lalu yang harus kita jadikan guru pada masa sekarang. Tapi ternyata hanya aku yang merasa demikian.

Aku juga ingin seperti kebanyakan orang. Tapi, begitu membosankan atau begitu kuno kah aku? Atau aku yang memang tak sepopuler mereka? Mereka punya karisma. Mereka punya sesuatu yang bisa mereka banggakan. Punya pangkat, punya segalanya. Aku pikir aku bisa sama dengan mereka. Aku pikir aku juga punya apa yang mereka punya. Nyatanya aku jauh tak punya apa-apa dibanding mereka. Bukan kah sebenarnya derajat manusia di mata Tuhan itu sama?

Aku tak tau apa sebenarnya yang dikatakan dengan “teman”. Bukankah teman akan selalu ada saat kita membutuhkan kita? Aku harap aku juga punya teman. Teman yang ada bukan karena aku “baik”. Teman yang bukan datang ketika aku punya kata “baik”. Teman yang bukan mendekat dengan alasan aku punya sesuatu yang “baik”. Tapi teman yang sesungguhnya. Apapun kulakukan agar mereka tak hanya mampir tapi tetap tinggal. Tapi sia-sia. Mereka melihatku pada momen-momen tertentu saja. Pada saat aku punya sesuatu yang “baik”. Tapi ketika yang “baik” itu hilang, merekapun hilang seolah-olah mereka tak mengenalku.

Apakah orang-orang di sana juga merasakannya? Apakah mereka tau apa yang aku rasakan? Aku tak ingin memilih karena aku tak ingin dipilih-pilih. Seperti mereka yang memilih “sesuatu” kemudian melihatku dengan tatapan ‘ayo ikut aku!’ tapi kemudian mereka pergi dan mengabaikanku seolah-olah tak mengenalku. Apa kalian mengerti apa yang aku katakan barusan?

Aku berusaha baik pada mereka. Berusaha tetap menganggap mereka ada tanpa tau apakah mereka juga menganggapku demikian. Nyatanya tak ada satupun dari mereka yang masih menganggapku ada. Mungkin sebagian kecil dari mereka ada. Teman bukan hanyalah mereka yang selalu memilih siapa yang akan jadi teman mereka. Tapi mereka yang memberi motivasi, memberi kritik, membenci kita kala kita tak bisa menjadi diri kita sendiri. Bukan teman yang datang karena kita punya baju baru, punya hp baru, punya iPhone, , punya SLR, punya mobil, atau karena kita punya uang untuk mentraktir mereka. Atau teman yang punya kepupoleran. Aku tak butuh teman yang populer, teman yang kaya, teman yang “kompak” karena dibalik kekompakkan itu ada kata “sesuatu”.

Dan, apakah aku punya seorang teman dalam arti sesungguhnya?

1 komentar: